Bonsai, secara sederhana diartikan sebagai tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal. Tujuannya, membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua yang hidup di alam bebas. Tanaman yang biasa dibonsai antara lain pinus, kesemek, sakura, danbambu. Sementara tanaman tropis seperti asam jawa, beringin, dan waru juga bisa mendapat sentuhan seni tradisional Jepang ini.
[sociallocker]Menurut Setio Utomo, bonsai juga dapat didefinisikan sebagai metode membudidayakan tanaman keras di dalam pot. "Tapi, bedakan bonsai dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Contoh, pohon klengkeng yang dibudidayakan dalam pot. Karena, bila tanaman tersebut berupa tanaman produktif yang dirangsang untuk menghasilkan buah, maka ia lebih tepat dikategorikan tabulampot. Sementara, bonsai tidak mengharapkan hasil, tapi bentuk yang indah lantaran statusnya adalah tanaman hias," jelasnya.
Dalam bonsai, terdapat peraturan tidak tertulis di mana tanaman yang digunakan harus berbatang keras, memiliki struktur cabang dan ranting, mampu menampilkan kesan tua, serta tidak berakar atau berbiji tunggal (monokotil). Tapi Tomo, begitu ia akrab disapa, mengabaikan kriteria-kriteria tersebut. Sebab, faktanya, pohon kelapa yang merupakan tanaman monokotil ternyata dapat dibonsai. Meski, dari segi mraktu pembuatannya tidak selama bonsai pada umumnya dan dari segi umur pun jauh lebih muda ketimbang bonsai yang kita ketahui.
"Kalau pada waktu 2 tahun - 5 tahun. Sedangkan,membonsai tanaman umumnya, membutuhkan untuk membonsai kelapa ini hanya diperlukan waktu beberapa bulan," ungkapnya. Berkaitan bonsai kelapa atau coco bonsai ini sebenarnya lebih pas disebut bakal bonsai. Sementara, coco bonsai (bonsai kelapa) itu sendiri sekadar istilah untuk menarik konsumen mancanegara, khususnya. dengan itu, "Pada dasarnya, kami hanya ingin memuliakan atau mengangkat derajat tanaman yang sudah tidak dianggap menjadi tanaman yang menarik dan mempunyai harga," imbuhnya. Dikatakan begitu, bonsai menggunakan buah kelapa ang sudah sangat matang di pohon.
[caption id="" align="aligncenter" width="689"]
karena coco/kelapa Sedemikian matangnya, sehingga warnanya berubah menjadi hitam lantaran kekeringan. Dan, ketika ia semakin kering, ia akan jatuh dengan sendirinya. Selanjutnya, ia diambil dan lalu dibiarkan tumbuh lagi. Cara tersebut dilakukan mengingat sebagai tanaman monokotil, kelapa tidak dapat dicangkok. Di samping itu, buah kelapa semacam ini hanya terlalu matang, bukan busuk atau mati.
"Bagi orang awam, kelapa seperti ini dianggap sebagai buah yang sudah tidak berguna sama sekali, bahkan dianggap sudah mati. Sehingga, biasanya cuma dibuang atau dibakar. Sebaliknya, jika menggunakan buah kelapa segar atau buah kelapa yang sudah sangat matang di pohon tapi belum jatuh, proses bonsai justru akan gagal," kata laki-laki yang lebih suka disebut business development dalam usaha coco bonsai/bonsai kelapa ini.
Sekedar informasi, kelapa yang seperti kita ketahui dapat dimanfaatkan semua bagian "tubuhnya" itu, tidak tumbuh di semua wilayah di dunia ini. Berkaitan dengan itu, Tomo ingin memperkenalkan tanaman ini ke negara-negara yang memiliki empat musim. Sehingga, meski mereka tidak dapat menanamnya di kebun mereka karena berbentuk miniatur, tapi setidaknya mereka dapat melihatnya di teras (outdoor plant) atau di dalam (indoor plant) rumah mereka.
Dengan orientasi pasar masyarakat luar negeri, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sesuai dengan standar barang yang akan diekspor. Pertama, jenis kelapa yang digunakan. "Awalnya, kami menggunakan kelapa genjah karena batoknya kecil dan lucu. Tapi, setelah kami berorientasi ke pasar ekspor, semua jenis kelapa kami gunakan," katanya. Kedua, media tanam yang digunakan yaitu akar pakis hutan, sintetik (dakron), dan pasir gunung berapi (lava).
"Saat ini, kami menggunakan lava atau yang juga dikenal dengan istilah pasir malang/pasir bonsai. Sebab, pasir ini mengandung banyak mineral yang sangat dibutuhkan oleh kelapa yang dibonsai. Selain itu, juga tidak banyak mengandung bakteri dan sekalipun ada, bakteri tersebut gampang dimusnahkan. Sementara, akar pakis hutan yang juga bagus untuk membuat bonsai kelapa (coco bonsai) mengandung banyak bakteri. Di samping itu, kemungkinan besar coco bonsai (bonsai kelapa) tidak tumbuh dengan baik dan mudah goyah. Sama seperti jika menggunakan dakron," ucapnya.
Layaknya kelapa yang tumbuh secara alamiah, kelapa bonsai (coco bonsai) pun tumbuh (mengeluarkan daun dan buah). Walau begitu, kelapa bonsai/coco bonsai tidak memerlukan perawatan khusus untuk mempertahankannya tetap kerdil. Sebab, bonsai berarti pula mengurangi asupan makanan (gizi) si tanaman, sehingga ia tumbuh dalam kondisi kurang gizi. Untuk itu, ia cukup dirawat seperti alam merawatnya dan rajin memangkas daunnya. Bagi para pembeli coco bonsai juga tidak perlu merasa kuatir tidak mampu merawatnya. Karena, setiap kali membeli coco bonsai akan disertai buku panduan tentang bagaimana seharusnya merawat bonsai kelapa ini.
Dari berbagai jenis yang ada, bonsai kelapa/coco bonsai yang mempunyai bentuk seperti lebah dengan (maaf) bokong yang sangat besar ini diminati oleh banyak pihak. Permintaan bersifat ritel datang dari Makassar, serta beberapa kota di Jawa, Bali, dan Sumatra dengan harga Rp400 ribu/pot. Sementara untuk permintaan dalam jumlah besar, muncul dari Ukraina, Uni Emirat Arab, Oman, serta Belanda dan Prancis. "Untuk Belanda dan Prancis, kami diminta untuk mengirimkan minimum satu kontainer atau sekitar 600 pot. Saat ini, kami sedang pelan-pelan berusaha memenuhinya, sehingga nanti pada Maret atau April sudah dapat kami kirimkan sekaligus sebanyak 2.000-4.000 pot," katanya.
Meski usaha yang dirintis tahun 2006 dan mengeluarkan produknya pada tahun 2008 ini mempunyai karakteristik mudah dikerjakan, tidak memerlukan lahan yang luas, dan tidak membutuhkan modal besar tapi kenyataannya dalam berproduksi agak tersendat. "Sebab, prinsip utama usaha ini ada pada kemauan," tegas Tomo, yang menjadikan kediamannya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebagai laboratorium coco bonsai.
Jadi, prospeknya? "Bagus Karena itulah, kami ingin menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam bentuk pelatihan, yang ditujukan kepada para karyawan mereka yang sedang memasuki MPP (Masa Persiapan Pensiun). Sehingga, mereka memiliki bekal dan kegiatan ketika pensiun itu datang. Hasil karya mereka, nantinya kami beli dan pasarkan ke mancanegara. Seperti, plasma-plasma kami yang tersebar di Tasikmaya, Cakung, Serang, Yogyakarta, dan Lampung," ujar Tomo, yang sedang mengutak-atik pinang agar bisa pula dibonsai.
Analisa Usaha Ruamahan Coco Bonsai/Bonsai Kelapa
Biaya produksi
- 300 bibit kelapa @Rp1500 = Rp 450rb
- 300 pot @Rp1000 = Rp300rb
- 38 karung pasir bonsai @Rp10rb = Rp380rb
- 1 karung pupuk @Rp15rb = Rp15rb
Total biaya produksi bonsai kelapa: Rp1.145.000
Hasil penjualan
25% x 300 coco bonsai (bonsai kelapa) = 225 bonsai kelapa @Rp400rb = Rp90 juta
Laba kotor = Rp 88.855.000
catatan:
- bibit kelapa bisa anda dapatkan secara cuma-cuma jika anda tinggal di daerah yang banyak tumbuh pohon kelapa.
- pot bisa menggunakan kaleng bekas saat awal pembuatan, baru nanti dipindahkan ke pot yang lebih bagus ketika sudah jadi dan mau dijual.
- resiko kegagalan usaha bonsai kelapa untuk pemula 20% - 25%, untuk yang sudah profesional berkurang menjadi 5%-10%
Bagaimana? tertarik untuk menekuni usaha bonsai kelapa?
[/sociallocker]
saya berminat, ada contak yang bisa dihubungi?
ReplyDeleteSaya juga berminat...kebetulan dirumah skarang sedang membudidayakan nonsai kelapa..
ReplyDeleteSaya juga berminat...kebetulan dirumah skarang sedang membudidayakan nonsai kelapa..
ReplyDelete