Monday, October 22, 2012

Sriyanto, Sukses Berbisnis Kerajinan Kayu Jati

Sambil melayani pembeli, Sriyanto (44) dengan tangkas merakit ulang lampu sudut dari kayu jati, salah satu kerajinan dagangannya. Ia "pensiun" sebagai petani seiak 17 tahun lalu, untuk menggarap limbah kayu jati yang melimpah di desanya.


Kerajinan berbahan kayu jati, dengan aneka bentuk dan fungsi, memadati gerai pameran Indocraft 2012 yang ditempati Sriyanto di Balai Sidang Jakarta, pekan lalu. Mulai dari tempat lilin, Wadah buah, hingga miniatur kereta ada di situ. Semua menyuguhkan warna alami kayu jati dan dipoles halus. Aneka kerajinan kayu ini dibuat di Dusun Bandar, Desa Batakan, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, Jawa Timur. Di dusun itulah Sriyanto tinggal. Dusun ini berbatasan dengan bentangan hutan jati yang dikelola Perum Perhutani.



"Zaman saya kecil, limbah kayu jati di kampung saya paling jadi kayu bakar. Enggak ada harganya,"ujarnya. Limbah kayu yang dimaksud Sriyanto itu antara lain berupa sisa potongan batang kayu, biasanya tak lebih panjang dari satu meter. Ada juga kayu cabang atau ranting pohon jati yang tak digunakan industri kayu.




[caption id="" align="aligncenter" width="511"]kerajinan kayu jati - motor harley davidson kerajinan kayu jati - motor harley davidson[/caption]

[sociallocker]”Dulu orang dusun tinggal ambil atau ngumpulin gratis di hutan. Sekarang harus beli dari Perhutani,”tambahnya.


Tumbuh di desa itu, Sriyanto mula-mula hanya bekerja sebagai petani, menggarap ladang dan sawah. Otak-atik limbah kayu hanya sekadar




[caption id="" align="aligncenter" width="200"]kerajinan limbah kayu jati - mobil kuno kerajinan limbah kayu jati - mobil kuno[/caption]

keasyikan di Waktu senggang, karena bahan ini melimpah di lingkungan sekitarnya Pada era 1980-1990-an, mulai tumbuh usaha rumah tangga yang membuat kerajinan dengan memanfaatkan limbah kayu tersebut di dusunnya.


Sriyanto pun mulai memperhatikan bagaimana para perajin di desanya bekerja. Pelan-pelan Sriyanto belajar pada mereka. Baru pada tahun 1995, ia mulai serius jadi perajin kerajinan kayu jati, mula-mula ia membuat bentuk sederhana seperti teko-tekoan dan Vas bunga.




[caption id="" align="aligncenter" width="461"]kerajinan limbah kayu jati - kapal layar pinisi kerajinan limbah kayu jati - kapal layar pinisi[/caption]

"Ternyata, kerajinan bisa menghasilkan duit, dibandingkan sekadar nggarap sawah. Selain itu, saya seneng juga kerjaan kerajinan ini."


Sebagai anak muda ketika itu, Sriyanto cukup jeli mengamati pasar. Karenanya, sejak tahun 2000, ia beranjak dari perajin menjadi pengumpul hasil produksi para perajin tetangganya. Kemudian, produk-produk kerajinan itu ia salurkan penjualannya ke pasar.




[caption id="" align="aligncenter" width="625"]kerajinan kayu jati - kapal layar pinisi kerajinan kayu jati - kapal layar pinisi[/caption]

Kaya model


Dari sekadar asbak teko, dan vas, hasil kerajinan yang dibuat dan dijual pun makin beragam. antara lain miniatur seperti lokomotif kereta dan motor atau mobil.


Saat ini, Sriyanto bekerja sama dengan sekitar 60 perajin di kampungnya. Di Dusun Batokan sendiri terdapat sekitar 250 perajin kayu dengan teknik bubut. Sebagian besar dari para perajin bekerja di rumah masing-masing, bukan di bengkel 'milik pengusaha besar. "Ada tetangga saya PNS juga "kalau pulang kantor bikin kerajinan ini."


Setiap perajin di desa ini rata-rata bisa menghasilkan sekitar 100 hingga 200 buah produk kerajinan per bulan, tergantung dari kerumitan produk Sebagai pedagang pengumpul, Sriyanto menyalurkan produk kerajinan dan kampungnya itu ke pembeli grosir di Jakarta, Surabaya, dan Jepara.


Di Jakarta, ia antara lain memasok produk ke toko suvenir di Taman Mini Indonesia Indah. Sementara, dari Jepara, kerajinan yang ia pasok sebagan diteruskan ke pasar Malaysia. "Pembeli-pembeli dari Malaysia ini punya gudang sendiri di Jepara, jadi saya tinggal antar sampai ke gudang mereka ,” ujarnya


Untuk pasar Malaysia yang dipasok lewat Jepara itu, Sriyanto mengirimkan barang rata-rata dua kali sepekan, masing-masing sebanyak 500 hingga 700 produk kerajinan dengan beraneka ragam model. ”Paling sepi satu kali sebulan kirim barang ke sana," katanya menambahkan.


Produk kerajinan kayu buatan Dusun Bandar ini tak terhitung mahal. Di tingkat konsumen eceran misalnya, Sriyanto menjual satu set tempat lilin terdiri atas tiga ukuran seharga Rp 70.000, sedangan miniatur kapal pinisi yang banyak digemari pembeli Malaysia harganya berkisar Rp 60.000 hingga Rp 250.000. Untuk pembelian grosir tentu dikenakan harga yang lebih rendah.



Hiasan 'coret'


Dalam proses pengerjaan kerajinan kayu jati ini, mula-mula bahan bakunya dibentuk menjadi 'lembaran' dengan ketebalan rata, lalu digambar, dan dipotong sesuai pola yang di gambar tersebut. Sebelum dirakit, potongan kayu sesuai model ini lebih dulu digosok hingga permukaannya halus dan dipelitur. Di gudang pedagang pengumpul, kerajinan itu digosok lagi dan dilapisi melamin agar permukaannya terkesan berkilau.


"Kemudian baru dicoret." Maksud Sriyanto, produk kerajinan ini dihias lagi dengan lukisan atau ukiran. Barulah kemudian produk kerajinan ini dirakit dan dikemas.


Sejak 2004, Sriyanto dan sejumlah perajin di Batokan menjadi mitra binaan Pertamina. Mereka antara lain mendapat pelatihan manajemen, pinjaman modal, serta bantuan pemasaran melalui pameran. Kendala utama mereka adalah memperluas jangkauan langsung ke pembeli akhir. Keikutsertaan dalam pameran sejauh ini jadi tumpuan harapan para perajin ini untuk mendapat pembeli baru. Dalam pengembangan desain produk, para perajin selama ini lebih banyak melayani permintaan pembeli. Para pembeli memberi model sesuai keinginan. Negeri ini memang kaya materi alam dan daya kreasi. Namun sayang perhatian pemerintah dirasa masih sangat minim menurut Sriyanto.[/sociallocker]

No comments:

Post a Comment